banner 728x90

Didiagnosa Thalasemia, Juantara : Aku Hanya Ingin Main Dengan Teman-teman

banner 468x60

Kotabumi, LE-plus.com
Juantara Saputra tak dapat menampik cobaan yang menerpa dirinya. Meski solusi untuk kesembuhanya belum kunjung tiba, bocah berusia 6 tahun ini tetap memiliki semangat, walau hanya bisa terbaring lemas tak berdaya dipembaringan.

Tak banyak kata yang ia ucapkan akan apa yang dirasakannya, dan juga sebagai tanda keinginan yang sangat mendalam. “Aku hanya ingin sekolah. Sakiit….. Aku ingin main dengan teman-teman,” ucap Juantara, saat ditemui di rumahnya di Kecamatan Bukit Kemuning Lampung Utara (Lampura), Rabu (15/11).

Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Sahnuri (36) dan Farida (32) ini, didiagnosa tim medis mengidap penyakit kekurangan sel darah merah atau lebih dikenal dengan Thalasemia.

“Awalnya dia (Juantara) lemas, kemudian nyeri dikaki. Itu terjadi sejak Oktober 2016 lalu. Sejak itulah anak saya hanya bisa terbaring ditempat tidur,” ucap Juantara.

Tak mau berputus asa, Sahnuri terus berupaya mengobati sang buah hati, yang tiap dua pekan harus ke rumah sakit Abdul Moloek Bandar Lampung. Meski harus mengunakan bus, sang ayah tak kenal lelah untuk tetap membawa Juantara agar menjalani transfusi darah golongan O.

Tak jarang Sahnuri kerap mendapat hambatan untuk memperoleh tiga kantong darah karena kekosongan stok di PMI. Namun baginya hambatan itu bukanlah jurang terjal, meski harus merogoh kocek untuk membayar orang guna mendonorkan darah, bagi Sahnuri kesembuhan anaknya adalah yang utama.

“Saya kerja serabutan. Kalau misalnya lagi nggak ada stok darah di PMI, terpaksa saya bayar orang untuk bisa donor. Uangnya ya dari saya pinjam koperasi keliling (koperasi simpan pinjam) yang tiap hari saya bayar angsurannya. Tiap dua pekan, tiga kantong darah segar, dan 6 kantong darah trombosit,” katanya.

Rasa gundah makin menggelora tatkala pihak RS Abdoel Moloek menganjurkan agar Juantara dirujuk ke rumah sakit di Jakarta. Bukan persoalan biaya rumah sakit yang menjadi persoalan, sebab Juantara sudah tercover dalam program BPJS. Tapi bagi Sahnuri, untuk biaya hidup saat berada di Ibukota itu yang menjadi kegalauannya. “Saya tidak punya cukup biaya kalau untuk dibawa ke Jakarta,” urainya.

Keterbatasan ekonomi, itulah yang membuat Sahnuri dan istri sangat mengharapkan uluran tangan para dermawan untuk membantu pengobatan Juantara. Harapan dan doa selalu Sahnuri dan istri dengungkan setiap waktu. Mereka yakin, atas kuasa sang pencipta sang buah hati dapat segera pulih. (LE-Avan)

banner 468x60
author

Penulis: 

Tinggalkan Balasan